keterampilan Berbahasa bg. 3


KETERAMPILAN BERBAHASA BERBICARA
Berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Sesuai yang diungkapkan oleh suhendar, “berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud ujaran (1992:20). Ujaran yang dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna.
Setelah mengetahui pengertian singkatnya, berikut adalah batasan-batasan mengenai keterampilan berbicara :
-Berbicara merupakan ekspresi diri.
-Berbicara merupakan kemampuan mental motorik.
-Berbicara merupakan proses simbolik.
-Berbicara terjadi dalam konteks ruang dan waktu.
-Berbicara merupakan keterampilan berbahasa bersifat produktif.
Berbicara juga memiliki prinsip-prinsip umum, yaitu :
a.       Melibatkan paling sedikit terdiri dari dua orang.
b.      Mempergunakan studi linguistic yang dipahami oleh kedua belah pihak.
c.       Merupakan suatu pertukaran peran antara pembicara dan penyimak.
d.      Pembicaran dilakukan pada masa kini.
Tujuan dari berbicara, berdasarkan pada dua jenis yaitu :
Berdasarkan Bentuk Komunikasi
a.       Tujuan Sosial
Berkomunikasi dan memberi informasi kepada orang lain.
b.      Tujuan Ekspresif
Berbicara digunakan manusia sebagai alat untuk menyampaikan perasaannya.
c.       Tujuan Ritual
Menyampaikan pesan  kepada  penganutnya yang bersifat sakral memalui bahasa.
d.      Tujuan Instrumental
Sebagai alat untuk memperoleh sesuatu dapat berupa pekerjaan, jabatan, atau hal lainnya.
                   Berdasarkan Pada Efek Pembicaraan
a.       Berbicara dengan tujuan meyakinkan pendengar.
Fakta dan data sangat penting dalam mendukung apa yang diungkapkan pembicara., hal ini sangat mendukung bagi keberhasilan kegiatan berbicara ini yang membuat pendengar yakin dengan argumen yang diungkapkan pembicara
b.      Berbicara dengan tujuan mengajak (persuasive)
           Terdapat 3 cara :
·         Pembentukkan tanggapan, pembentukan cara khalayak memberi tanggapan terhadap sebuah topik.
·         Penguatan tanggapan, tanggapan khalayak yang mulai terbentuk tentang suatu produk harus tetap dijaga
·         Pengubahan tanggapan, mengubah perilaku khalayak agar mereka mau mengubah perilaku yang selama ini mereka lakukan
c.       Berbicara dengan tujuan memperluas wawasan pandangan.
Berbicara dengan tujuan memperluas wawasan pendengar biasanya dilakukan dalam pembicaraan informatif, misalnya ceramah, seminar, dan sebagainya.
d.      Berbicara dengan tujuan memberi gambaran tentang suatu objek.
Seorang pembicara harus menggambarkan sebuah objek dengan sejelas-jelasnya sehingga pendengar secara emosi merasakan keterlibatan dalam pembicaraannya.
e.       Berbicara dengan tujuan menyampaikan pesan tersirat (implisit).
Biasa terjadi pada kegiatan berbicara berupa cerita, ketika seorang bercerita, pesan yang disampaikan pencerita tidak secara gamblang terlihat dalam ceritanya, tetapi diselipkan pada perilaku tokoh-tokoh di dalamnya cerita tersebut.
Selain tujuan, jenis juga terdiri dari 3, yaitu:
                    Berdasarkan Pada Situasi
a.       Berbicara Formal
Kegiatan berbicara yang terikat pada aturan. baik aturan yang berkaitan dengan tatakrama maupun kebahasaan.
b.      Berbicara Non-Formal
Kegiatan berbicara yang tidak terlalu terikat pada aturan-aturan, kadang-kadang berlangsung secara spontan dan tanpa perencanaan.
                     Berdasarkan Keterlibatan Prilakunya
a.       Berbicara Individual
Kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seorang pelaku pembicara, misalnya pidato.
b.      Berbicara Kelompok
Kegiatan berbicara yang melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya diskusi dan debat.
                    Berdasarkan Alur Pembicaraannya
a.       Berbicara Monologis
Kegiatan berbicara yang dilakukan searah. Pesan yang disampaikan pembicara tidak memerlukan respons dari pendengar, misalnya pidato dan membaca puisi. 
b.      Berbicara Dialogis
Kegiatan berbicara yang dilakukan secara dua arah. Pesan yang disampaikan pembicara memerlukan respons dari pendengar.
Peranan berbicara dalam keseharian adalah sebagai alat komunikasi antara satu individu lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan berbicara dilakukan secara non-formal yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu dan tanpa harus dipersiapkan terlebih dahulu.
Kaitan berbicara dengan keterampilan lainnya
Hubungan berbicara dengan menyimak
Saat seorang anak dapat mulai berbicara dimulainya dengan menyimak lingkungan sekitarnya yang dalam arti kata keluarganya. Selain itu, terjadi pula pergantian peran antara pembicara dan penyimak.dan yang paling penting adalah kemampuan berbicara dapat menjadi alat ukur kemampuan menyimak sesorang, jika dia bagus tutur katanya dalam berbicara berarti kemampuan menyimaknya sudah bagus pula, dan juga sebaliknya.
Hubungan berbicara dengan membaca
Disini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan hasil dari tingkat membaca, makin sering seseorang membaca maka semakin bagus pula seseorang itu berbicara mulai dari gaya bahasanya hingga diksi yang dipakainya. Hal ini berarti kemampuan berbicara dapat ditingkatkan melalui membaca. Dan menjadi sarana memandu kegiatan berbicara, contohnya pada saat membaca puisi atau pidato, diperlukannya teks ringkasan sebagai inti pembicaraan.
Hubungan berbicara dengan menulis
Kemampuan menulis menjadi sarana pendukung bagi kemampuan berbicara ketika kemampuan berbicara memerlukan naskah atau makalah, kemampuan menulis sangat diperlukan oleh seorang pembicara. Selain itu menulis sangat diperlukan saat wawancara, terutama bagi seorang wartawan yang sedang mewawancarai seseorang dan inti sarinya pun dituangkan di dalam tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keterampilan Berbahasa bg. 3 (2)