KONSEP RHOTACISM (CADEL)

ARTIKEL




OLEH
ORBIT JUNITA
NIM A1D117010
JUNITAORBIT@GMAIL.COM







UNIVERSITAS JAMBI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR



LATAR BELAKANG

Bahasa adalah satu sistem kognitif manusia (yang diatur oleh rumus-rumus) yang unik yang dapat dimanipulasi oleh manusia untuk menghasilkan (menerbitkan) sejumlah kalimat bahasa linguistik yang tidak terbatas jumlahnya berdasarkan unsur-unsur yang terbatas untuk dipakai oleh manusia sebagai alat berkomunikasi dan mengakumulasi ilmu pengetahuan. (Simanjuntak, 2008: 17).
Cadel adalah salah satu macam gangguan bebahasa. Gangguan ini bukan hanya terjadi pada balita saja, beberapa orang dewasa-pun tak jarang turut mengalaminya. Cadel yang dialami oleh orang dewasa umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau yang lebih dikenal dengan behavioristik seperti psikoedukatif (pendidikan yang diberikan oleh oaang tua (ayah atau ibu)) dan psikokultural atau kognitif (kemampuan mental, kemampuan akal budi, atau kemampuan sekumpulan individu dalam mendorong diri mereka untuk berproduksi lebih tinggi) dan dapat pula disebabkan oleh faktor penyakit seperti menderita down syndrom, stroke, atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf. Hubungan artikulasi dengan syaraf ini disebut kajian Neurolinguistik. Selain itu terdapat pula kaum yang menganut paham nativis  yang mengatakan cadel dapat diturunkan dari orang tua kepada anak, namun hal ini masihlah perlu dikaji lagi.
Secara kedokteran, Sidharta menuturkan (dalam Chaer, 2009:149) gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu gangguan berbicara, gangguan berbahasa, gangguan berpikir. Ketiga gangguan itu masih dapat disemuhkan apabila penderita gangguan itu mempunyai daya dengar yang normal; bila tidak, tentu menjadi sukar atau sangat sukar.
Jadi, apakah cadel ini dapat menjadi penghalang untuk berkomunikasi? Oleh karena itu pada artikel ini akan dijelaskan konsep dan penyebab cadel secara singkat.



Cadel pada usia balita dainggap biasa terjadi dikarenakan organ artikulasinya masih belum sempurna sedangkan cadel yang dialami oleh beberapa orang dewasa umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan seperti psikoedukatif dan psikokultural, dapat pula disebabkan oleh faktor penyakit seperti menderita down syndrom, stroke, atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf lainnya. Selain itu banyak juga nativis yang berpendapat jika cadel merupakan hasil hereditas dari orang tua.
Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986). Walapun cadel merupakan salah satu gangguan berbicara, cadel bukanlah suatu hal yang serius dan menakutkan. Cadel-pun masih dapat disembuhkan dengan melakukan Hypnotherapy atau latihan terus-menerus.
Kebanyakan cadel yang kita tahu adalah ketika seseorang yang tidak dapat membunyikan [r] malah terdengar seperti [l], sesuai dengan pendapat Garner (2009:66) menjelaskan bahwa rhotacism atau cadel merupakan suatu kondisi ketidaksempurnaan pengucapan bunyi [r] sehingga ketika didengar menjadi bunyi [l]. Sedikit info, pada beberapa negara bukanlah sesuatu masalah jika tidak dapat mengucapkan [r], misal pada negara China yang struktur alfabetnya tidak terdapat huruf [r] sehingga menyebabkan gangguan artikulatornya karena tidak terbiasa mengucapkan huruf [r].
Pengucapan bunyi [r] memiliki perbedaan dengan huruf lainya karena untuk mengucapkannya diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir, hal inilah yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab cadel. Kelainan proses produksi tersebut juga menyebabkan kesalahan artikulasi bunyi, baik dalam titik artikulasi maupun cara pengucapannya, akibatnya terjadi kesalahan seperti penggantian/substitusi atau penghilangan.
Sebelumnya seperti yang kita ketahui jika berbahasa memiliki empat keterampilan, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Menurut Wibowo (2001:3) bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Dari penjelasan Wibowo dapat ditarik simpulan dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, keterampilan yang penting dalam belajar bahasa adalah keterampilan berbicara dan membaca karena keduanya memerlukan aktivitas alat ucap untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Kesimpulannya, rhotacism pada beberapa negara dapat mempengaruhi komunikasi sehari-hari dikarenakan cadel dapat menyebabkan pergeseran makna dan ketidakjelasan saat berbicara. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

keterampilan Berbahasa bg. 3

Keterampilan Berbahasa bg. 3 (2)