Keterampilan Berbahasa bg. 2


Hakikat Keterampilan Menyimak

      Bahasa lisan (primer) merupakan media yang dipakai untuk menyimak. Pembicara menyampaikan gagasan dengan bahasa lisan dan ditangkap penyimak melalui alat pendengaran. Untuk menyampaikan gagasan, pembicara dapat memilih kata-kata, kalimat, lagu, gaya yang paling tepat untuk mewadahi gagasannya, agar ia dapat menyampaikan gagasan tanpa menyebabkan ambiguitas oleh penyimaknya.
      Unsur bahasa lisan yang dipergunakan dalam berkomunikasi ada dua macam. yaitu aspek linguistik dan nonlinguitik. Aspek linguistik ialah kata-kata, frase, kalimat yang diucapkan pembicara kepada penyimak. Aspek nonlinguistik sering disebut dengan istilah kinestetik. Tujuannya agar gagasan tersebut dapat dengan mudah diterima penyimak. Adapun aspek nonlinguistik tersebut dapat berupa: (a)  anggukan kepala, artinya menyatakan setuju, (b) acungan ibu jari, artinya menyatakan pujian, (c)  gelengan kepala, artinya menyatakan tidak setuju, (d)  gerakan alis ke atas, artinya tanda kurang setuju atau kurang benar, (e)  membungkukkan badan, artinya tanda menghormat, dan lain sebagainya.       
      Aspek kinestetik ini dapat membantu untuk memperjelas kalimat-kalimat yang diucapkan pembicara.
      Menyimak merupakan kegiatan dasar dalam berbahasa dikarenakan banyak teori yang menyatakan bahwa kecerdasan anak dapat dilatih sejak di dalam kandungan dengan mendengarkan lagu klasik ataupun murottal qur’an, meski teori tersebut belum terbukti kebenarannya tapi yang pasti dengan mendengarkan lagu klasik dan murottal qur’an dapat memberi ketenangan bagi bayi yang menyimaknya berbeda hal-nya jika diberi dengan lagu aliran rock atau sebagainya.

      Setelah dilahirkan, orang-orang sekitar akan memanggil bayi tersebut sesuai namanya, pada awalnya ia tidak bereaksi namun secara berkelanjutan ia akan sadar bahwa panggilan itu ditujukan kepadanya. Berarti ia sedang menyimak apa yang terjadi disekitarnya, mulai dari ia mengetahui namanya, panggilan untuk ibu bapaknya dan lainnya. 

      Walaupun hakikatnya menyimak termasuk dalam kegiatan kehidupan sehari-hari. Namun dalam pembelajaran, konsep menyimak ini ditujukan untuk anak sekolah dasar kelas tinggi, dikarenakan menyimak dalam pembelajaran dibutuhkan konsentrasi untuk mendengar sumber suara dengan penuh perhatian, mengolah dan memahami sumber suara tersebut, kemudian menilai paduan-paduan bunyi menjadi suatu pesan yang bermakna.

Konsep Dasar Hakikat Menyimak

      Menurut Tarigan (1987:28) Menyimak merupakan suatu proses serta interpretasi untuk mendapat kan kesimpulan. Menyimak merupakan suatu kegiatan yang bersifat aktif-reseptif. Dikatakan aktif karena dalam proses menyimak diperlukan adanya aktivitas mental terutama dalam mengolah bunyi-bunyi bahasa yang didengar. Dan reseptif yaitu bersifat menerima, terbuka dan tanggap terhadap pendapat, ide atau gagasan orang lain.

Peran Menyimak Dalam Pembelajaran

      Dasar keterampilan bahasa adalah menyimak karena menyimak memiliki pengaruh yang besar terhadap keterampilan berbahasa lain yang dimiliki seseorang. Hasil menyimak akan dapat meningkatkan keterampilan/kemampuan membaca, berbicara, dan menulis seseorang.

      Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan keterampilan menyimak yang selalu digunakan dalam kegiatan komunikasi. Tanpa keterampilan menyimak, komunikasi tidak akan dengan baik atau akan terjadi gangguan atau bahkan terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungan antarsesama menjadi tidak baik. Selain berperan dalam komunikasi sehari-hari, menyimak sangat diperlukan di dalam pembelajaran. Seorang pelajar yang memiliki daya simak yang rendah akan mendapat kesulitan dalam menangkap pelajaran yang dijelaskan oleh guru atau dia juga akan mengalami kesulitan dalam mengikuti diskusi-diskusi yang dilakukan di kelas. 

Kaitan Menyimak Dengan Keterampilan Berbahasa Lain



   Dari gambar tersebut kita mengetahui kaitan menyimak dengan keterampilan berbahasa lain, yaitu :

Menyimak dan Berbicara :          Dapat dilakukan oleh dua orang yang saling tatap muka dan memungkinkan keduanya saling berganti peran. Keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang akan memberi kontribusi yang besar bagi keterampilan berbicaranya

Menyimak dan Membaca :   Memiliki kesamaan yaitu memiliki sifat reseptif. Keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang akan sangat bermanfaat bagi keterampilan membacanya, demikian pula sebaliknya

Menyimak dan Menulis  :          Penyimak dan penulis tidak saling berhubungan. Dalam hal ini, keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang akan banyak memberi kontribusi terhadap keterampilan menulisnya

Unsur-Unsur Menyimak

1)      Pembicara, ialah orang yang menyampaikan pesan. berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak.

2)      Penyimak, penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas

3)      Bahan simakan, ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi

Tahap-Tahap Menyimak


Jenis-Jenis Menyimak

A.    Menyimak Berdasarkan Tujuan

- Untuk Belajar, menyimak untuk memperoleh pengetahuan secara formal maupun nonformal.

- Untuk Hiburan, untuk memperoleh hiburan dan menghilangkan rasa jenuh atau kebosanan dari rutinitas sehari-hari

- Untuk Menilai, untuk menilai banyak dilakukan oleh para juri kegiatan lomba misalnya.

- Untuk Mengapresiasi, bertujuan sama dengan menyimak untuk hiburan namun disini penyimak menyertakan perasaannya pada hal-hal yang disimak.

- Untuk Memecahkan masalah, untuk seseorang sengaja memilih bahan simakan dan melakukan kegiatan menyimak dalam rangka memecahkan masalah yang sedang dihadapi.



B.     Menyimak Berdasarkan Intensitas

- Ekstensif, kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat umum dan tidak diperlukan bimbingan langsung dari seorang guru.

                                i.            Menyimak Sekunder, sama dengan kegiatan mendengarkan.

                              ii.            Menyimak Pasif, mendengarkan sambil melakukan pekerjaan lain.       

                            iii.            Menyimak Estetis, menyimak secara serius dan berkonsentrasi memperhatikan.



- Intensif, penyimak memerlukan arahan dan bimbingan karena bahan-bahan yang harus disimak perlu dipahami secara terperinci, teliti, dan mendalam.

                                       i.    Menyimak Kritis, untuk memperoleh informasi yang akurat tentang sesuatu sehingga menghasilkan satu kesimpulan.

                                 ii. Menyimak Konsentratif, sering juga disebut a study type listening atau menyimak sebagai kegiatan menelaah.

                            iii.  Menyimak Kreatif, berhubungan erat dengan imajinasi seseorang tentang keindahan, bunyi-bunyian, gerakan, dan juga penglihatan terhadap sesuatu.  



C.     Menyimak Berdasarkan Sumber Bunyi

- Interpersonal

- Intrapersonal


Permasalahan Saat Mengadakan Kegiatan Menyimak Di Dalam Kelas

a.         Kurangnya konsentrasi karena kelas kurang kondusif.

b.        Kebingungan simantik.

c.         Kebiasaan dengan memandang enteng.

d.        Kebiasaan berpura-pura menyimak.

e.         Membuat catatan tanpa memahami isi.

Cara Mengajak Siswa Untuk Menyimak Agar Melengkapi Catatan

a.         Teknik menyimak berkonsentrasi.

b.        Teknik menyimak menelaah.

c.         Teknik menyimak kritis, dapat menyimpulkan isi dari pembicara.

d.    Teknik menyimak dengan membuat catatan, hal-hal yang penting bersifat informal, dan mereview kembali catatan tersebut.

Keberhasilan Dalam Menyimak

Michael Rost menjelaskan bahwa seseorang dikatakan berhasil dalam menyimak jika dia mampu menghubungkan/menggunakan kemampuan-kemampuan di bawah ini:

KEMAMPUAN MEMAHAMI

        Mengidentifikasi bunyi-bunyi dan menghubungkan kata-kata

KEMAMPUAN MENGANALISIS

        Mengidentifikasi aspek-aspek gramatika dan aspek-aspek pragmatik

KEMAMPUAN MENSINTESIS

Memadukan unsur-unsur linguistik dengan unsur lain yang diperlukan dengan cara memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya                  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

keterampilan Berbahasa bg. 3

Keterampilan Berbahasa bg. 3 (2)