Hakikat
Keterampilan Menulis
Sumber : kompasiana.com
Menulis
merupakan suatu bentuk komunikasi berbahasa (verbal) yang menggunakan simbol-simbol
tulis sebagai mediumnya dalam arti kata menulis merupakan salah satu dari ragam
komunikasi.
UNSUR – UNSUR DALAM
KEGIATAN MENULIS
Setidaknya memiliki 4
unsur terkait dalam menulis, yaitu :
(1) Penulis sebagai
penyampai pesan,
(2) Pesan atau sesuatu
yang disampaikan penulis,
(3) Medium berupa lambing
bahasa tulis seperti rangkaian huruf atau kalimat dan tanda baca,
(4) Penerima pesan,
yaitu pembaca, sebagai penerima pesan yang disampaikan oleh penulis.
FUNGSI – FUNGSI DAN
TUJUAN KEGIATAN MENULIS
Fungsi dan tujuan ini
tidak selalu hadir sendiri-sendiri. Artinya, dalam suatu kegiatan menulis dapat
terkandung lebih dari satu fungsi, yaitu :
1. Fungsi personal,
yaitu mengekspresikan pikiran, sikap, atau perasaan pelakunya sendiri.
2. Fungsi instrumental
(direktif), yaitu mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.
3. Fungsi
interaksional, yaitu menjalin hubungan sosial.
4. Fungsi informatif,
yaitu menyampaikan informasi, termasuk ilmu pengetahuan.
5. Fungsi heuristik,
yaitu belajar atau memperoleh informasi.
6. Fungsi estetis,
yaitu untuk mengungkapkan atau memenuhi rasa keindahan.
MANFAAT MENULIS
Menurut Graves (1978),
banyak sekali manfaat dari menulis baik bagi diri sendiri maupun orang lain,
yaitu :
1. Menulis Mengembangkan Kecerdasan
Menurut
para ahli psikolinguistik, menulis merupakan suatu aktivitas kompleks.
Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan mengharmoniskan berbagai
aspek, seperti pengetahuan tentang topik yang dituliskan, kebiasaan menata isi
tulisan secara runtut dan mudah dicerna, wawasan dan keterampilan meracik
unsur-unsur bahasa sehingga tulisan menjadi dan enak dibaca, serta kesanggupan
menyajikan tulisan yang sesuai dengan konvensi atau kaidah penulisan.
Tumbuh-kembangnya kemampuan tersebut sekaligus mengasah pula daya pikir dan
kecerdasan seseorang yang mau belajar menulis atau mengarang.
2.
Menulis Mengembangkan Daya Inisiatif
dan Kreativitas
Dalam
menulis seseorang menyiapkan dan menyuplai sendiri segala sesuatunya: isi
tulisan, pertanyaan dan jawaban, ilustrasi, pembahasaan, serta penyajian
tulisan. Supaya tulisan menarik dan enak dibaca maka apa yang dituliskan harus ditata sedemikian rupa
sehingga logis, sistematis, dan tidak membosankan. Untuk dapat menghasilkan
tulisan seperti itu, maka seorang penulis harus memiliki daya inisiatif dan
kreativitas yang tinggi.
3.
Menulis Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Keberanian
Banyak
kekhawatiran dan bayangan buruk menghinggapi kepala orang dalam menulis. Namun
jika ia sering membuat tulisan Ia akan berani menampilkan pemikirannya,
termasuk perasaan, cara pikir, dan gaya tulis, serta menawarkannya kepada orang
lain.
4.
Menulis Mendorong Kebiasaan serta
Memupuk Kemampuan dalam Menemukan, Mengumpulkan, dan
Mengorganisasikan Informasi
Kerap
informasi yang dimiliki seseorang tentang isi tulisan tidak dimiliki dengan
cukup ketika ingin menulis sesuatu. Kondisi tersebut akan mendorong seseorang
informasi yang diperlukan dari berbagai sumber. Berdasarkan sumber itu,
seseorang akan memperoleh informasi yang diperlukannya dalam menulis dengan menyerap
informasi yang didapatkannya dengan menandai garis besarnya saja. Implikasinya,
dia akan menerapkan berbagai strategi agar informasi yang diperoleh tertata
sedemikian rupa sehingga ketika diperlukan mudah dicari dan dimanfaatkan, tanpa
harus membaca ulang semua bacaan yang pernah dipelajari sebelumnya. Lalu, motif
dan perilaku seperti itu akan mempengaruhi minat, kesungguhan, dan keterampilan
seseorang dalam mengumpulkan dan mengolah informasi.
MENULIS SEBAGAI PROSES
Sebagai proses, menulis melibatkan
serangkaian kegiatan yang terdiri atas tahap prapenulisan, penulisan, dan
pascapenulisan. Dalam aktivitas menulis, hubungan antarfase itu lebih bersifat
sirkuler daripada linear.
Fase prapenulisan merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk mempersiapkan sebuah tulisan. Di dalamnya terdiri atas kegiatan
memilih topik, tujuan, dan sasaran karangan, mengumpulkan bahan, serta menyusun
kerangka karangan. Berdasarkan kerangka karangan kemudian dilakukan pengembangan butir demi butir atau ide demi
ide ke dalam sebuah tulisan yang runtut, logis, dan enak dibaca. Itulah fase
penulisan. Selanjutnya, ketika buram (draft) karangan selesai, dilakukan
penyuntingan dan perbaikan. Itulah fase pascapenulisan, yang mungkin dilakukan
berkali-kali untuk memperoleh sebuah karangan yang sesuai dengan harapan
penulisnya.

Komentar
Posting Komentar